ROTE NDAO — Pembangunan Sentra Industri Garam Nasional di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, mulai menggerakkan roda perekonomian warga lokal. Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dirancang untuk mewujudkan swasembada garam nasional ini tidak hanya menyerap ratusan tenaga kerja daerah, tetapi juga memicu pertumbuhan usaha mikro di sekitar lokasi proyek.
Tokoh Adat Desa Serubeba, Nicodemus Haon, menyampaikan apresiasinya atas realisasi pembangunan kawasan tambak garam tersebut. Menurutnya, dampak ekonomi langsung telah dirasakan oleh warga sekitar.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah karena dengan adanya proyek pembangunan tambak garam ini, perekonomian masyarakat sekitar sudah mulai membaik dan tingkat pengangguran berkurang,” ujar Nicodemus.
Menanggapi dinamika selama pelaksanaan proyek, Nicodemus mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpancing isu yang belum terverifikasi. Ia mendorong penyelesaian berbagai dinamika melalui dialog terbuka antara warga, pemerintah daerah, kontraktor pelaksana, serta tokoh adat.
“Mari kita bersama-sama menyatukan hati dan pikiran untuk terus mendukung pelaksanaan proyek tersebut agar memberikan manfaat berkelanjutan. Yang terpenting, marilah kita menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat agar tetap aman, damai, dan kondusif,” imbuhnya.
Serap Ratusan Tenaga Kerja Lokal dan Tumbuhkan UMKM
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Rote Ndao, Jems Riwu, memaparkan bahwa pengembangan tambak garam tahap pertama seluas 606 hektare telah rampung, sementara pengerjaan tahap kedua seluas 751 hektare terus berjalan.
“Berdasarkan data pihak kontraktor, proyek ini telah menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja, dengan hampir 300 orang di antaranya merupakan tenaga kerja lokal,” terang Jems.
Dampak berganda proyek ini terlihat nyata di lapangan melalui:
Bertambahnya kios, lapak sembako, dan unit UMKM baru di sekitar kawasan proyek;
Meningkatnya pendapatan warga lewat penyewaan rumah tinggal bagi para pekerja;
Perbaikan akses serta sarana pendukung di area sekitar tambak.
Mengenai kendala administratif dan pembayaran kompensasi, Jems menegaskan bahwa proses penyelesaian terus berjalan secara bertahap. Saat ini sekitar 75 persen proses administrasi dan teknis telah tuntas diselesaikan.
“Kami memahami ada proses yang terkesan lambat dan kami memohon kesabaran masyarakat,” jelasnya.
Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana dan kondisi wilayah tetap aman, produksi garam di Rote Ndao ditargetkan mulai beroperasi penuh pada rentang Oktober hingga November mendatang. Jems mengajak seluruh lapisan masyarakat terus bersinergi menjaga stabilitas wilayah demi keberlanjutan investasi dan kesejahteraan bersama di Rote Ndao.











